Oleh : Fakhriati.
Pendekatan metakognitif adalah pendekatan yang melandasi langkah-langkah dalam proses belajar-mengajar berupa kegiatan belajar yang mengarahkan siswa menjadi seorang pembelajar otonomi. Pendekatan ini sangat membantu pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas besar. Tanpa mengubah materi pelajaran yang ada, jumlah siswa maupun posisi tempat duduk siswa., masih dapat diupayakan alternatif langkah-langkah metakognitif agar pembelajaran dapat berjalan lancar dan lebih terfokus kearah pencapaian hasil pembelajaran yang lebih baik.Beberapa langkah-langkah spesifik dapat diatur guru disesuaikan dengan kebutuhan pada saat proses belajar-mengajar berlangsung. Metakognitif dalam membaca adalah kesadaran seseorang saat proses membaca apakah ia faham atau tidak tentang isi dari teks yang sedang dibacanya.
Sebuah Penelitian Tindakan Kelas telah dilaksanakan dikelas IXB SMP Negeri 1 Banjarbaru pada semester 1 (bulan September sampai November) tahun 2006 dengan tujuan: 1) meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran membaca bahasa Inggris dengan pendekatan metakognitif; dan 2) meningkatkan kemampuan siswa membaca bahasa Inggris dengan pendekatan metakognitif.
Menurut Huda dalam Mukminatien (2000), seorang pembelajar dapat dikatakan sebagai pembelajar yang trampil dan mandiri (learner autonomy) atau memiliki kemampuan metakognitif apabila ia dapat: 1) mengetahui tujuan pembelajaran dan mengetahui apa yang sedang diajarkan, 2) mengetahui tujuan belajarnya sendiri, 3) memiliki strategi belajarnya, 4) memonitor kemajuan belajarnya sendiri, 50 mengevaluasi strategi belajarnya sendiri.
Metakognitif dalam membaca adalah kesadaran seseorang saat proses membaca apakah ia faham atau tidak tentang isi dari teks yang sedang dibacanya. Dengan kata lain, metakognitif dapat menciptakan seorang pembaca yang trampil yang dapat menggunakan strategi membaca pemahaman secara efektif. Keunikan seorang pembaca metakognitif adalah ia mengetahui bahwa pemahaman membaca yang baik memerlukan keaktifan saat membaca, yaitu; memprediksi, bertanya, berimajinasi, klarifikasi dan menyimpulkan sambil membaca.
Singkat kata pembaca yang baik adalah seorang yang saat membaca selalu terlibat/ menyadari proses berfikirnya untuk memahami teks.dengan memilih dan menggunakan strategi membaca yang tepat/ sesuai dengan tujuan membacanya serta selalu memonitor pemahaman saat membaca.
Burns, et al (1986) menyatakan bahwa, metakognitif mencakup; mengetahui apa yang sudah diketahui/ dimiliki, mengetahui ketika mengerti/ memahami hal baru dari apa yang baru selesai dibaca, mengetahui bagaimana pemahaman itu dapat dicapai, dan mengetahui mengapa sesuatu/ hal tersebut dapat/ tidak dapat dipahami. Dalam proses belajar mengajar, seorang guru diharapkan selalu melaksanakan pembimbingan siswa kearah ini sehingga kegiatan belajar mengajar membaca dapat berjalan dengan lancar untuk mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan.
Untuk menjadi seorang pembelajar mandiri, seorang siswa perlu mengetahui apa (whats), mengapa (whys), bagaimana (hows),dan kapan (whens) strategi membaca itu digunakan (Vacca & Vacca, 1999: 47). Mereka harus mengetahui pentingnya (1) pemahaman penggunaan berbagai strategi untuk memfasilitasi pemahaman dan pembelajaran. (2) menganalisa soal dalam tugas membaca, (3) merefleksi apa yang mereka ketahui dan tidak ketahui dari teks bacaan, (4) merencanakan penyelesaian tugas membaca yang sukses dan untuk mengevaluasi dan mencek kemajuan penyelesaian tugas.
Dilain fihak, guru harus mengetahui apakah siswanya cukup mengerti kemampuan dirinya (self-knowledge) dan penyesuaian cara belajarnya (task knowledge) ketika melaksanakan tugas membaca. Teks yang berbeda mungkin membawa masalah yang berbeda pula bagi siswa untuk memahaminya. Karena itu, ketika diberi tugas membaca siswa harus memahami type sebuah teks dan cara memahaminya. Dan ini adalah tugas guru untuk memberikan bimbingan dan penjelasan bahwa untuk menyelesaikan tugas membaca siswa harus bisa melakukannya dengan fleksibel dan adaptif artinya tidak perlu dilakukan dengan cara yang sangat lambat dan waktu yang panjang. Siswa harus dapat mengatur cara membacanya, mengerti apa yang harus dilakukan ketika menemukan masalah saat membaca. Ini yang dimaksud dengan memonitor pemahaman (comprehension monitoring) dan mengatur diri (self- regulation). Apakah siswa mempunyai cukup cara untuk dapat keluar dari masalah ketika ia kesulitan/ bingung atau tidak mengerti apa yang sedang dibacanya? Seorang pembaca yang trampil secara otomatis akan merubah cara membacanya ketika ia menemukan masalah saat membaca, misalnya dengan cara memperlambat, mengulang, menghubungkan dengan sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya, membuka kamus, atau bertanya dengan seseorang dan sebagainya. Dalam situasi seperti inilah metakognitif memegang peranan.
Langkah-langkah Operasional Penerapan Strategi Metakognitif dalam Pembelajaran Membaca di kelas
Mengingat siswa SMP kelas IX bukan pembelajar dewasa yang dapat diharapkan dengan sendirinya dapat memiliki keteampilan belajar membaca secara mandiri, maka strategi metakognitif yang diterapkan disini dimodifikasi dengan langkah-langkah operasional berupa pendekatan sebagai berikut:
Saat pelaksanaan tindakan, setiap memulai pembelajaran membaca, siswa diberi lembar kegiatan metakognitif berupa lembar pengamatan keaktifan siswa selama KBM dan pengamatan kemampuan menyelesaikan tugas. Lembar pengamatan (obervasi) diri ini diisi oleh siswa selama KBM.berlangsung.
Siswa juga diminta mengisi kolom pengamatan kemampuan menyelesaikan tugas dalam lembaran kegiatan metakognitif untuk memonitor dan menilai/ evaluasi kemampuan dirinya dalam menyelesaikan tugas membaca. Dalam lembaran ini tertulis tujuan pembelajaran dilengkapi dengan kolom yang harus diisi siswa berupa komentar tingkat kesulitan mereka saat menyeleasikan tiap soal yang dikerjakan (mudah, sedang, sulit). Dalam lembaran ini siswa juga diminta menjelaskan secara singkat langkah/ cara yang mereka gunakan dalam mengerjakan soal-soal membaca tersebut. Dengan cara ini diharapkan siswa dapat mejadi terbiasa memonitor dan mengevaluasi diri atas kegiatan belajar yang mereka lakukan secara mandiri.
Terakhir, setelah selesai kegiatan membaca siswa diminta merefleksi kegiatan/ strategi yang dilakukannya selama membaca dengan cara membubuhkan tanda caklis pada angket tertutup yang dibeikan guru.
Untuk melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan metakognitif, diperlukan alat pendukung berupa peraturan belajar yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh siswa dikelas. Maka, sebelum tindakan penelitian dilakukan siswa dan guru membuat peraturan yang disetujui oleh kedua belah fihak, yaitu semacam kesepakatan tentang bagaimana harus bersikap selama pelajaran. Hal ini sangat penting karena dengan melibatkan siswa dalam membuat peraturan mereka merasa ikut terlibat dalam memecahkan masalah mereka. Pendekatan partnership seperti ini dapat menggeser anggapan peran guru sebagai penguasa kelas. Dengan cara ini diharapkan siswa dapat semakin memahami pentingnya belajar bahasa inggris. Jadi sebelum langkah-langkah metakognitif dilaksanakan peraturan bersama tentang ketertiban kelas selama belajar bahasa inggris telah dilakukan terlebih dahulu, yaitu:
Selalu membawa kamus dan buku-buku lain yang diperlukan
Selalu tanggap dan bertanggung jawab terhadap tugas
Belajar dengan bersungguh-sungguh
Selalu berusaha menyelesaikan tugas secepatnya
Tidak membuang-buang waktu
Tidak mengobrol hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran yang sedang dibahas
Berusaha menjawab dengan kemampuan sendiri
Saling mensupport agar menjadi siswa yang sukses dan mandiri
Boleh bertanya dengan teman kalau ada hal tang kurang dimengerti, tapi tidak meminta/ menyontek jawaban.
Selesai mengerjakan tugas, jawaban di cek lagi sebelum dikumpul.
Setiap mengerjakan latihan soal/ PR/ulangan selalu berusaha mencapai nilai terbaik (minimal sesuai SKBM= 62)
Kegagalan mencapai SKBM harus disikapi dengan belajar keras untuk memperbaiki kemampuan dengan nilai yang lebih baik.
Efektifitas dari peraturan ini dapat dilihat dari hasil lembaran kegiatan metakognitif, yaitu, pengamatan keaktifan siswa dalam KBM.
Hasil Pengamatan Keaktifan Siswa dalam KBM Siklus 1 dan Siklus 2 yang dilaksanakan oleh masing-masing siswa sendiri dengan menggunakan lembar kegiatan metakognitif berupa lembar pengamatan keaktifan siswa dapat dilihat pada grafik berikut ini:
Pengamatan Keaktifan Siswa Siklus1 dan Siklus 2
Perbandingan data keaktifan siswa dalam kbm siklus 1 dan siklus 2 menunujukkan bahwa: walaupun tidak semua aktifitas meningkat namun secara umum dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan keaktifan siswa dalam KBM dari siklus1 ke siklus2
Pengamatan Kemampuan Menyelesaikan Tugas Membaca Siklus1 dan Siklus 2 Secara keseluruhan kemampuan siswa menyelesaikan tugas pada siklus 2 meningkat walaupun sangat kecil (1%) atau tidak berarti.
Pengamatan Tingkat Kemampuan Siswa Menyelesaikan Tugas Pada Siklus1 & 2
Tingkat kemampuan siswa menyelesaikan tugas pada siklus 2 tetap/ tidak meningkat.
Penilaian Kemampuan membaca siswa dilakukan melalui penilaian tugas membaca dan penilaian kemampuan menggunakan strategi membaca (Metacognitive Reading Awareness)
Perbandingan Hasil Penilaian Kemampuan Membaca Siklus 1 dan Siklus 2
Perbandingan Hasil Penilaian Kemampuan Membaca Siklus 1 dan Siklus 2 menunjukkan bahwa kemampuan siswa membaca meningkat setelah pelaksanaan tindakan siklus 2. Rata-rata peningkatan adalah 10%.
Perbandingan Data Hasil Penilaian Kemampuan Menggunakan Strategi
Perbandingan Data Hasil Penilaian Kemampuan Menggunakan Strategi Membaca Siklus 1 dan Siklus 2 menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa menggunakan strategi membaca telah meningkat. Pada siklus 2 tidak ada lagi siswa yang termasuk kategori kurang baik. Hal ini menunjukkan bahwa siswa memang perlu diberikan penjelasan dan contoh cara-cara penggunaan strategi membaca yang efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman. .
Hasil Penelitian
Hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran membaca dan kemampuan membaca dapat ditingkatkan melalui kegiatan pembelajaran dengan pendekatan metakognitif. Keberhasilan pelaksanaan tindakan dapat dilihat dari hasil analisis lembar pengamatan diri siswa yang menunjukkan semua siswa dapat mengerjakan tugas masing-masing dengan konsentrasi dan tidak membuang waktu karena guru tidak perlu memberikan tambahan waktu atau penyelesaian tugas tidak dilanjutkan dirumah. Mereka kelihatan sangat antusias menyelesaikan tugas masing-masing dan bertanggung jawab. Suasana kelas saat belajar terasa sangat nyaman karena semua siswa asyik dengan tugas masing-masing. Saat evaluasi diripun siswa dapat menjelaskan mengapa mereka mendapat kesulitan saat menyelasaikan tugas. Dengan jujur mereka mengatakan bahwa mereka terlambat menyelesaikan tugas karena lupa membawa kamus. Disamping meningkatnya aktifitas siswa dikelas dan kemandirian belajar, pendekatan metakognitif juga dapat meningkat kemampuan siswa menggunakan strategi membaca sehingga siswa menjadi pembaca efektif dan strategik serta meningkatkan kemampuan membaca menjadi lebih baik. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pendekatan metakognitif telah membuat siswa memjadi pembelajar yang lebih mandiri dan bertanggung jawab atas keberhasilan belajarnya dan memilik kemampuan pemahaman membaca yang baik.
Secara terperinci peningkatan yang dihasilkan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
Keaktifan siswa dalam KBM membaca bahasa Inggris dilihat dari setiap aspek kegiatan meningkat Hal ini dapat dilihat dari:
a) Hasil pengamatan keaktifan siswa yang dinilai melalui lembar pengamatan keaktifan siswa dalam KBM dan
b) Hasil pengamatan kemampuan Siswa menyelesaikan Tugas membaca yang dinilai melalui lembar pengamatan kemampuan menyelesaikan tugas.
Kemampuan siswa membaca bahasa Inggris meningkat. Hal ini dapat dilihat dari:
c) Hasil Penilaian Tugas membaca yang dinilai melalui lembar tugas membaca.
d) Hasil Penilaian Kemampuan Menggunakan Strategi membaca yang diukur melalui lembar Metacognitive Reading awareness.
Saran
Pendekatan metakognitif adalah pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk setiap mata pelajaran tidak terbatas pada pembelajaran membaca saja. Pendekatan ini difokuskan untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran kepada pembelajar akan proses berfikirnya mencakup perencanaan, monitoring dan evaluasi diri terhadap proses dan hasil pembelajaran. Seorang pembelajar yang metakognitif mengetahui apakah ia mengerti atau tidak apa yang sedang dipelajari dan membuat rencana memperbaikinya apabila dia belum mengerti. Demikian guru dapat membuat lembar kegiatan metakognitif yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, jenis tugas yang diberikan, cara siswa memonitor proses dan mengevaluasi hasil pembelajarannya. Diharapkan baik guru maupun siswa dapat memahami proses berfikir dan memonitor serta mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan hingga pada akhirnya dapat menciptakan pembelajar yang mandiri demikian juga hasil belajar yang lebih baik serta guru yang kreatif.
Penelitian Tindakan kelas bertujuan untuk meningkatkan praktek pembelajaran dikelas/ sekolah sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan hasil pembelajaran melalui kegiatan pemahaman guru terhadap kondisi dikelas masing-masing sesuai dengan karakter siswa dan kondisi sekolah. Untuk itu, disarankan kepada sekolah maupun pihak instansi terkait untuk selalu memberikan dukungan dan dorongan terhadap kegiatan penelitian tindakan kelas dengan lebih pro-aktif memfasilitasi buku-buku referensi diperpustakaan sekolah.
Recent Comments